Introspeksi 1/2 2014

2014 bagi saya merupakan tahun yang penuh dengan kejutan. Berbagai hal-hal tidak terduga telah terjadi dan secara ajaib saya lewati. Baik itu hal-hal yang membuat saya bahagia, terharu, kesal, marah, bahkan (hampir) menangis. Dan….. Tidak terasa setengah jalan dari 2014 sudah dilalui. Banyak sekali pelajaran yang saya dapatkan selama setengah tahun ini yang bisa dijadikan bahan refleksi dan introspeksi diri.

Setengah tahun ini saya habiskan dengan mengikuti berbagai kegiatan di luar kegiatan organisasi yang saya ikuti di kampus (Dema Justicia, KMFH). Sempat saya mengikuti kegiatan Constitutional Drafting, yaitu lomba Legal Drafting tetapi drafting Undang-Undang Dasar meskipun hasilnya tidak seperti yang diharapkan. Kemudian saya ikut kegiatan Debat (meskipun hanya sekedar membantu teman2 yang ikut lomba). Setelah Debat saya mengikuti kegiatan Moot Court Competition (MCC) Internal Piala Dekan IX (meskipun masuknya baru di tengah-tengah) dan alhamdulillah hasilnya memuaskan.Sekarang saya sedang mengikuti kegiatan MCC Nasional Tjokorda Raka Dherana III di Universitas Udayana (mohon doanya semoga Juara I, Amiin.)

Berbagai kegiatan yang saya ikuti di atas benar-benar membuka cakrawala saya tentang dunia hukum. Meskipun beberapa kegiatan tidak saya ikuti full prosesnya dari awal, saya bersyukur bisa bergabung dan mengikuti kegiatan-kegiatan di atas. 

Satu hal yang benar-benar menjadi introspeksi bagi saya adalah mengenai masalah akademik. Mengikuti banyak kegiatan merupakan hal positif bagi pengembangan diri kita, namun keseimbangan dengan akademik juga harus kita perhatikan. Saya sendiri terlalu meremehkan keseimbangan akademik. Saya baru benar-benar serius belajar ketika UAS, saat UTS malah saya remehkan. Padahal bobot keduanya sama. Alhasil ya tidak memuaskan hasilnya. Maka dari itu, keluarin apa yang terbaik yang kita punya kalau tidak ingin menyesal akhirnya.

Ketika kita memperjuangkan sesuatu, keluarkan apa yang terbaik yang kita bisa sejak awal, kalau tidak ingin menyesal.

Entahlah

Entah kenapa, sampai sekarang masih mikirin hal-hal kayak gitu. Bukan hal yang penting untuk dibahas, tapi terkadang tiba-tiba muncul di otakku. Apa karena aku orang yang terlalu berpikir? Memang benar kalau terlalu berpikir akan memunculkan masalah yang sebenarnya tidak ada.

Rasanya diri ini terlalu dibutakan oleh pikiran, dan hati mulai disingkirkan oleh pikiran-pikiran itu. Logika mulai memangsa yang namanya perasaan. Dua hal yang memang bertolak belakang, tapi berjalan beriringan. Ketika logika terlalu mendominasi maka kita akan termakan oleh spekulasi dan hanya melihat hal-hal dari apa yang tampak tanpa menelaah lebih dalam apa yang ada di dalamnya.

Mungkin itu yang terjadi saat ini, mata hati mulai dibutakan oleh logika yang tak didasarkan atas perasaan. Jelas ini salah.

lalu bagaimana cara mengatasinya?

Tanda Tanya

Kata seorang teman, “jangan ekspektasi terlalu jauh tentang suatu hal, karena belum saatnya kamu memikirkan hal tersebut.”

Entah kenapa kalimat tersebut terus terngiang di pikiranku. Mungkin karena aku orangnya terlalu berpikir, bahkan overthinking. Tapi aku akui mungkin hal tersebut bisa juga benar dan bisa juga tidak.

Ketika membicarakan sesuatu terutama “hal tersebut”, aku menjadi berpikir kembali. Apakah iya saat ini aku terlalu cepat untuk memikirkan hal tersebut? Apa memang sekarang belum saatnya aku memikirkan hal tersebut? Itulah pertanyaan yang selalu terngiang di otakku.

Aku pun berpikir kembali, apakah “yakin” saja tidak cukup untuk bisa menjalaninya? Mungkin iya mungkin tidak. Banyak hal dalam diri ini yang perlu untuk diyakinkan. Banyak hal dalam diri ini yang perlu untuk dirubah. Selain hati, pikiran pun harus diyakinkan. Karena ketika hati dan pikiran tidak dapat berjalan selaras, bagaimana kita bisa melangkah kedepan? Memang, banyak hal yang harus direnungkan jika kita berbicara tentang “hal tersebut.” Masih banyak yang belum siap, dan harus segera disiapkan.

Solusi dari segala permasalahan diri itu sebenarnya ada pada diri kita sendiri. Namun ketika kita sudah tahu solusinya, namun masih tidak mampu merubah apa-apa, harus bagaimana?
You must not lose faith in humanity. Humanity is like an ocean; if few drops of the ocean are dirty, the ocean does not become dirty.

Mahatma Gandhi

Batu Kali, Kerikil, dan Cadas

http://dialoghujan.tumblr.com/post/75707928421/batu-kali-kerikil-dan-cadas

dialoghujan:

"Benar sekali: batu-batu kali, kerikil, dan cadas pun bisa menyatakan perasaannya. Jangan meremehkan satu orang, apalagi dua, karena satu pribadi pun mengandung dalam dirinya kemungkinan tanpa batas." - Pramoedya Ananta Toer (Anak Semua Bangsa)

monggo mampir di tumblr saya yang satu ini. Isinya khusus tulisan-tulisan saya. Ditunggu cacian, kritik, saran, dan masukan dari teman-teman. Mohon maaf kalau kurang rapi dan kurang bagus tulisan-tulisannya, maklum masih belajar hehe.

Originally from Refleksi, Introspeksi, Inspirasi.

Semakin sibuk orang mencari-cari dan menemukan, semakin jelas, bahwa dia sebenarnya diburu-buru oleh kegelisahan hati sendiri.

Pramoedya Ananta Toer (Anak Semua Bangsa)

Benar sekali: Batu-batu kali, kerikil, dan cadas pun bisa menyatakan perasaannya. Jangan remehkan satu orang, apalagi dua, karena satu pribadi pun mengandung dalam dirinya kemungkinan tanpa batas.

Pramoedya Ananta Toer (Anak Semua Bangsa, hal. 108)

bersyukurlah atas segala hal yang telah diberikan pada kita saat ini. Meskipun bukan yang terbaik menurut kita, tapi Tuhan selalu punya rencana terbaik untuk kita.

FR